Dendam Politik Di Pilkada Kampar

JarNas - POLITIK memiliki dua arah makna berbeda, Baik dan Buruk. namun kebanyakan menafsirkan pada makna kedua yakni Buruk. Politik itu kejam, politik itu sadis, politik itu mau enak sendiri, politik itu siapa yang berduit dia yang menang dan dia yang berkuasa, Politik itu gila kekuasaan, utang sana sini, sikut sana sikut sini. Kadang tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba menangis sedih. Dulu berlawan sekarang berteman, dulu berkawan sekarang bermusuhan, di dalam politik itu lumrah saja terjadi.
Tidak heran ada kalimat "Kalau tidak punya jantung dua, jangan pernah berpolitik dan Kalau tidak berduit tidak akan pernah memegang kekuasaan" sebab politik itu memiliki tujuan akhir adalah kekuasaan. Kalau sudah duduk enggan untuk beranjak dan terus membuat dinasty karena ingin terus berkuasa. Dalam politik, tidak menjadi ukuran utama kualitas ataupun intelektualitas, yang penting kuantitas dan isi tas.
Ada banyak makna politik. Kata politik berasal dari bahasa Yunani yaitu polis yang berarti negara. Menurut para ahli seperti diungkapkan Bapak Ilmu Politik Aristoteles. Menurutnya politik merupakan ”Master of Science”, yang bermakna pengetahuan tentang politik adalah kunci untuk memahami lingkungan. Politik tidak bisa dipisahkan oleh dua aspek yaitu konflik dan kerja sama.
Dalam Wikipedia politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (Teori Klasik Aristoteles). Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan publik pemerintahan dan negara. Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik pemerintahan.
Pemilihan Kepala Daerah merupakan pesta demokrasi rakyat yang sangat dinanti-nanti. Penentuan masa depan negara dan bangsa ditentukan oleh masyarakat sebagai aktor utama dalam pemilihan umum. Baik buruk hasilnya selama lima tahun nanti itulah fakta yang harus diterima.
Untuk mencapai hasil yang baik, maka tergantung bagaimana proses memulainya. Ibarat hidup berumah tangga, orang baik akan bertemu jodoh yang baik sebagaimana dalam kandungan ayat alquran surat An-nur ayat 26 bahwa jodoh merupakah cerminan dari diri sendiri. Artinya adanya kesamaan sifat antar keduanya.
Makna dari surat itu; wanita berkelakuan keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga),"
Dari ayat itu, jelas menggambarkan bahwa para calon pemimpin telah bertemu jodohnya, yang tentunya memiliki sifat dan prilaku yang sama, maka mereka berjodoh.
Pada pemilu kali ini di Kabupaten Kampar, ada empat pasangan yang telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk bertarung pada Pilkada 2024. Mereka itu adalah pasangan Yusri dan Rinto Pramono yang diusung Partai Gerindra dan Partai Demokrat mendaftarkan diri pada Rabu (28/8/2024) tepat pukul 11.00 WIB. Kemudian menyusul di hari itu pasangan Ahmad Yuzar dan Misharti 14.00 WIB yang diusung PKB, Partai Gelora, Nasdem, partai Bulan Bintang dan PDIP.
Pasangan ketiga yakni Yuyun Hidayat dan Edwin Pratama Putra diusung oleh PAN, Solidaritas Indonesia, PKS dan PPP mendaftar pada hari yang sama tepat pukul 15.00 WIB. Terakhir mendaftar pada Kamis (29/8/2024) Repol dan Rahmad Jevary Juniardo memakai satu partai yakni Partai Golongan Karya, Partai Buruh.
Mengenal Sosok Kandidat
1. Yusri-Rinto Pramono
Yusri awalnya hadir di pemerintahan Kabupaten Kampar semasa Bupati Kampar Azis Zaenal-Catur Sugeng Susanto periode 2017-2022. Ia ditarik dari pemda Rokan Hulu dan menjabat sebagai Sekretaris Daerah di Kabupaten Kampar.
Dalam waktu dua tahun Azis Zaenal menjabat ia wafat pada Kamis dini hari, 27 Desember 2018 pukul 01.30 WIB, jabatan langsung digantikan oleh wakilnya yakni Catur Sugeng Susanto yang dilantik pada 12 Februari 2019. Hingga habis masa jabatannya 22 Mei 2022, Yusri tetap menjabat sebagai Sekda Kampar.
Mengisi kekosongan waktu, maka sesuai dengan peraturan pemerintah menyelenggarakan Pilkada Serentak, maka sisa dua tahun menjelang 2024. Terjadi silih berganti pejabat yang menjabat sebagai Penjabat Bupati dan Sekretaris Daerah di Kabupaten Kampar.
Selepas Catur Sugeng Susanto Kampar dipimpin oleh Kamsol sebagai Penjabat Bupati, Yusri tetap menjabat sebagai Sekda Kampar, bertahan selama lebih kurang 10 bulan, lalu diganti oleh Azwan sebagai Penjabat Sekda.
Kamsol dilantik Senin (23/5/2022) menjabat sebagai Penjabat Bupati Kampar dengan tetap memakai Yusri sebagai Sekda, namun selama 10 bulan menjabat, kemudian digantikan oleh Azwan yang dilantik pada Jum'at (24/3/2023).
Selama setahun menjabat tiba-tiba Kamsol diganti oleh M. Firdaus yang dilantik pada Selasa (23/5/2023). Azwan tetap pada posisinya sebagai Penjabat Sekda. Baru saja tiga bulan menjabat kembali jabatan Sekda diganti. Firdaus melantik Ramlah sebagai Sekda Kampar pada Jum'at (23/6/2023). Ramlah yang ketika itu menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kampar, memegang dua posisi jabatan strategis di pucuk organisasi pemerintahan. Enam bulan menjabat, Ramlah kembali digantikan oleh Hambali. M. Firdaus melantik Hambali sebagai Sekda definitif pada Jumat (10/11/2023).
Detik-detik menjelang Pemilu, situasi kian memanas. M. Firdaus dilengserkan dari jabatannya, hanya tujuh bulan menjabat sebagai Penjabat Bupati Kampar, Firdaus justru digantikan oleh orang yang belum lama ia lantik sebagai Sekda Kampar yakni Hambali.
Baru saja 42 hari menjabat sebagai Sekda definitif Hambali menggantikan posisi Muhammad Firdaus pada Jum'at (22/12/2023). Hambali kemudian melantik Yusri sebagai Penjabat Sekda pada Rabu (3/1/2024). Hanya empat bulan saja menjabat sebagai Penjabat Sekda Yusri sudah diganti lagi oleh Hambali kepada Ahmad Yuzar pada Selasa (30/4/2024).
Rinto Pramono adalah orang yang dipilih oleh Yusri menjadi pasangannya dalam Pilkada ini. Ia adalah pengusaha muda yang sangat aktif di berbagai organisasi terutama di perkumpulan persukuan jawa di Kabupaten Kampar. Ia menjabat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Jawa Riau Kabupaten Kampar.
2. Ahmad Yuzar-Misharti
Ahmad Yuzar selama ini adalah sosok ASN yang kalem, tidak begitu menonjol dikalangan pemerintahan juga masyarakat hanya saja ia mendapat posisi jabatan cukup strategis menjadi Asisten Pemerintahan di Kabupaten Kampar. Ketika Hambali menjabat sebagai Penjabat Bupati Kampar namanya mendadak tersohor karena ia diangkat menjadi penjabat sekda pada 30 April 2024 menggantikan Yusri yang dilantik oleh Hambali pada 3 Januari 2024.
Persiteruan terjadi dalam perebutan posisi sekda. Namun Yusri yang telah lama menanam niat untuk maju sebagai Bupati Kampar tidak memperdebatkan lagi tentang jabatannya yang dicopot tiba-tiba itu. Tersebab waktu pilkada sudah diambang pintu. Diam-diam ia telah menjalin kekuatan politik dengan orang-orang partai politik hingga akhirnya ia mendapatkan dukungan partai Demokrat dan Gerindra.
Yuzar adalah satu-satunya Calon Bupati yang berpasangan dengan perempuan yakni Misharti yang merupakan putri bungsu dari alm. Maimanah Umar (anggota DPD RI selama tiga periode yaitu, 2004-2009, 2009-2014, dan 2014-2019) pernah juga menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Riau empat periode sejak 1977 hingga 1998. Ia adalah salah seorang yang bertarung pada Pemilihan Legislatif Februari 2024. Namun gagal meraih kursi sebagai anggota DPD RI untuk melanjutkan periode sebelumnya sebagai anggota DPD RI Peride 2019-2024 .
Ia adalah adik kandung dari Penjabat Bupati Kampar M. Firdaus yang mengangkat Hambali sebagai Penjabat Sekda Kampar sebelum ia digantikan oleh Hambali sebagai Penjabat Bupati Kampar hingga saat ini. Konon berpasangannya Yuzar dan Misharti ini adalah karena politik balas jasa. Benar tidaknya hal ini entahlah.
3. Yuyun Hidayat-Edwin
Yuyun Hidayat adalah anggota DPRD Provinsi Riau periode 2019-2024. Anak kandung Bupati Kampar Azis Zaenal ini kalah bertarung pada Pileg Februari 2024. Mantan Ketua Gerakan Pramuka Kampar ini bisa duduk dan terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Riau saat orang tuanya menjabat sebagai Bupati Kampar. Ia memilih maju berpasangan dengan Edwin Pratama Putra yang juga gagal meraih kursi sebagai senator di DPD RI setelah 5 tahun menjabat.
Awalnya Edwin telah memupuk hubungan harmonis di Partai Golkar yang konon merencanakan berpasangan dengan Ketua Partai Golkar Kampar Repol. Entah apa sebabnya keduanya saling tuduh telah berselingkuh. Ibarat kata "Bertunangan bersama Repol, nikahnya dengan Yuyun Hidayat".
4. Repol-Rahmad Jevary Juniardo
Repol adalah Ketua Partai Golongan Karya yang duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kampar dan saat Pemilu lalu, ia berhasil menembus kursi di DPRD Provinsi Riau. Namun karena Partai Golkar tidak ada kader untuk bertarung, maka ia memutuskan mengikuti pertarungan Pilkada Kampar 27 November 2024.
Setelah adanya isue perselingkuhan Repol dan Edwin menyeruak, akhirnya Repol menemukan pengganti, ia berpasangan bersama Rahmad Jevary Juniardo. Ardo asalah anak kandung pasangan Jefry Noer (Bupati Kampar periode 2001-2016) dan Eva Yuliana (anggota DPRD Provinsi Riau).
Nasib pahit yang harus diterima Ardo yang saat menjabat Ketua DPC Partai Demokrat periode kedua, ketika ia telah lama merencanakan maju menjadi Bupati Kampar. Ketua DPC Partai Demokrat Kampar ini harus melepaskan jabatannya karena kekecewaannya terhadap keputusan Ketua Umum Partai Demokrat AHY yang memberikan rekomendasi kepada Yusri dan Rinto Pramono.
Sebelumnya Ardo pernah ikut bertarung dan menjadi pesaing berat Azis Zaenal maju dari jalur independen ini karena tidak mendapat dukungan Partai demokrat yang ketika itu dipimpin oleh ibu kandungnya Eva Yuliana.
Dua kali mengalami kekecewaan ini tidak menyurtkan langkah dan niatnya untuk maju menjadi Bupati Kampar, namun karena kondisi dukungan partai demokrat demikian, ia tidak maju sebagai bupati, hanya sebagai wakil bupati dari Repol.
Sebelumnya, Repol pernah menjadi musuh dari sang ayahnya Jefry Noer karena kasus makar yang dilakukan Repol. Namun yang namanya politik, tidak ada kawan atau musuh abadi yang ada adalah kepentingan yang abadi. Maka saat ini Jefry Noer menjadi warga satu rumah di Partai Golkar pimpinan Repol dalam memperjuangkan anak kandungnya yang akan bertarung pada Pilkada 27 November 2024 bersama Repol.
Dari pergantian-pergantian pejabat itu melahirkan sebuah penggalan rasa di hati masing-masing tentang fakta yang terjadi dan kenyataan yang harus diterima. Kini sosok-sosok itu akan bertarung memperebutkan kekuasaan untuk menjadi orang nomor satu di negeri serambi mekkah ini.
Dari keempat pasangan itu memiliki latar belakang politik yang menyisakan dendam. Antara Yusri dan Ahmad Yuzar dipicu karena jabatan Sekda, Repol dan Ardo memiliki latar belakang politik yang cukup berat dan menantang. Repol diobok-obok dengan isu di internal partainya, begitu juga dengan Ardo ada sosok kekuatan lain yang berperan dalam menepis kekuatannya. Sementara Yuyun dan Edwin dapat dikatakan pasangan yang tidak memiliki latar belakang politik yang bermasalah, hanya pada Edwin yang urung berpasangan dengan Repol.
Siapa dari empat pasangan itu yang akan keluar menjadi pemenang, semua itu adalah rahasia ilahi. (*)
What's Your Reaction?






