Rektor UP

Oct 10, 2026 - 10:05 WIB

Apa Kata Kasdim 0313 WB Kampar

ektor Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai Pro. DR. H. Amir Lutfi tidak pernah mau diam. Meski diusia senja yang saat ini 81 tahun, ia terus mengaplikasikan ilmunya dan mengembangkan cita-citanya menjadikan kampus kebanggaan masyarakat Kabupaten Kampar itu semakin berkualitas dan ternama.

Kemajuan kampus itu berkembang pesat dibawah kepemimpinanya, 


Kebun Raya

Adanya Kebun Raya Universitas Pahlawan ini diawali dengan munculnya gagasan untuk program mengembangkan kawasan kampus. Ia membeli tanah-tanah sekitar kampus utama yang telah mencapai 40 hektar. Tanah itu merupakan hutan rimba yang masih natural.

Di dalamnya terdapat itu lembah, dan koleksi-koleksi pepohonan yang langka, maka sesuai dengan visi dari universitas yaitu quality, entrepreneurship dan sustainable development. Lahan yang menjadi kelebihan dari kampus yang ada utama dijadikan kebun raya.

Untuk mewujudkan dalam pengelolaan kebun raya yang memenuhi standar, Amir menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

"Dan kita bersyukur bahwa BRIN sangat mendukung bahkan BRIN sudah memberikan penghargaan. Jadi negara pemerintah sudah memberi penghargaan kepada Universitas Parawan sepagai satu-satunya universitas swasta yang membangun kebun raya.

Ia mengatakan bahwa dengan percayaan dari pemerintah ini, tidak disia-siakan dan terus dikembangkan dengan program-program yang lebih baik lagi.

Lalu pada 2023 dilakukan peletakan batu pertama di lokasi kebun raya itu yang disebut dengan ground breaking dari kebun raya.

Pembangunan kebun raya dimulai pada akhir 2023. Awalnya Amir tidak begitu yakin kebjn raya itu akan menjadi seperri sekarang ini, amun ini merupakan keberuntungan dimana kontur lahan yang ada sangat bagus sekali, adanya lembah yang terjal sehingga menambah unik.

Tidak berhenti sampai disitu, sang profesor ini terus memutar otaknya untuk secepatnya mewujudkan cita-citanya. Ia kembali membeli lahan yang tidak jauh dari lahan yang bersebelahan dengan jalan lingkar sekitar 120 hektar menjadi zona B yang sudah dibebaskan 25 persen. Kondisinya lebih bagus dari zona A yang sekarang sudah dilakukan grand opening pada Jumat (9/10/2026). Di zona B ada sejumlah mata air

Tujuan akhirnya adalah ini menjadi satu bagian dari program Sustainable Development dan mewujudkan keanekaragaman hayati. Yang ini merupakan bukan saja program pemerintah Indonesia juga program dunia.

Atas dasar itulah, maka Universitas Pahlawan mengundang para ahli kebun raya dunia yakni Singapura dengan Melbourne yang merupakan kebun raya dua besar bersama dengan Singapura di dunia.

Selain itu, diundang juga ahli kebun raya dari Belanda dan Cina juga memiliki kebun raya terbesar yaitu Rishi Swambana itu yang dipimpin oleh Dr. Charles Cannon datang bersama istrinya ke sini.

"Jadi oleh sebab itu, selain ini sudah dikenal Indonesia, kita ingin mengenalkan kepada dunia bahwa di daerah Riau ada kebun raya yang berada di kampus Universitas Pahlawan Kampar yang telah bertaraf internasional," ujarnya.

 Dan mereka pada di mengakui bahwa ini betul-betul kebun raya yang mempunyai keunikan.

(5:31) Yang tidak dimiliki oleh kebun raya lainnya. (5:36) Itu pengakuan mereka. (5:39) Karena kontur tanahnya itu yang bagus.

(5:43) Karena saya juga pernah melihat di Belanda, di Singapura, Putrajaya, mereka kesana. (5:51) Begitu juga di Australia. (5:53) Tidak ada yang seperti ini konturnya.

(5:55) Jadi konturnya ini memang bagus. (5:57) Oleh sebab itu juga seorang konsultan kita. (6:04) Alex konsultan orang China dia.

(6:07) Dia mengatakan, saya merendahkan kebohamannya. (6:10) Bisa tidak ini jadian untuk skala Indonesia. (6:16) Ini bukan lagi skala Indonesia.

(6:20) Ini sudah skala Indonesia. (6:22) Nah itulah sekali-kali yang dapat saya sampaikan. (6:24) Apa harapan kita kepada pihak Kedai, terutama pemerintah? (6:28) Ya tentu pemerintah memberikan dukungan.

(6:33) Dukungan itu macam-macam. (6:35) Minimal dukungan moral. (6:37) Tapi kalau ada dukungan material, itu lebih bagus lagi.

(6:42) Kalau bisa masukkan bantuan melalui APBD, itu lebih bagus lagi. (6:47) Tapi insya Allah, orang banyak bertanya. (6:50) Kok UP bisa membuat simposium internasional? (6:55) Ya insya Allah kita anggap.

(6:57) Dan kita anggap ini kenduri. (6:59) Kenduri? (6:59) Kenduri. (7:01) Persemian adik kita.

(7:03) Berapa negara? (7:05) Negaranya berapa? (7:07) Ada sembilan negara. (7:09) Sembilan nano. (7:12) Dan mereka hadir semua.

(7:15) Termasuk badan-badan seperti UNESCO. (7:18) Wildlife dan UNDP. (7:22) Apa lagi yang mau disiapkan? (7:25) Sekarang kita tentu pembernahan koleksi-koleksi.

(7:28) Jadi koleksi-koleksi supaya dilengkapi. (7:34) Koleksi-koleksinya. (7:39) Selain yang berasal dari sini.

(7:43) Yang dari sini apa namanya? (7:46) Insitu. (7:47) Maupun yang datang dari luar atau eksitu. (7:50) Jadi insitu dan eksitu.

(7:53) Dan insitunya ini banyak rupanya di sini. (7:57) Pohon-pohon endemik ya. (7:59) Pohon-pohon yang masih asli.

(8:02) Bukan ditanam manusia. (8:05) Manusia salah satu seperti apa? (8:06) Seperti rotan. (8:08) Ada batang apa itu yang dipamerkan.

(8:13) Belimbing hutan dan sebagainya. (8:15) Ada beberapa itu. (8:17) Termasuk sialang.

(8:20) Sialang itu menjadi primadona sini. (8:23) Dan yang paling besar sialang kita itu di zona B dan T. (8:27) Itu surat tinggi besar. (8:30) Jadi kita berterima kasih.

(8:33) Kepada Tuhan yang Maha Esa. (8:35) Telah memberikan kita lahan yang cukup bagus. (8:39) Jadi sebagai tanda syukur kita.

(8:42) Maka kita undanglah kolega-kolega kita. (8:46) Baik dari nasional pun internasional. (8:49) Dan semuanya itu kita biayai.

(8:50) Maaf ya. (8:53) Itu internasional itu semua kita bayai. (8:58) Dari UP semuanya.

(9:00) Mandiri. (9:02) Oke Prof. Terima kasih Prof. (9:03) Terima kasih Prof. Sukses Pak. (9:06) Apa yang direkomendasikan dari Simposium International? (9:11) Kerjasama.

(9:13) Kerjasama dan saling tukar-menukar koleksi. (9:16) Dan mungkin ada dialog-dialog lain. (9:19) Dan kita anggap ini sebagai Simposium International pertama.

(9:24) Yang dilanjutkan nanti ada seri kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. (9:29) Oke ya. Terima kasih.